Top ↑ | Archive

terima kasih telah menjadi alay bersamaku. aku cinta..

welcome at kawah putih.

segera menghijau.

hello Rachman :)

"Terima kasih untuk kalian yang menghiburku hari ini, Deka crepes, Indomilk dan @FouFouzna :”("

Ini bukan jenis kesialan tapi tidak untuk hari ini

hari ini, aku ingin bercerita tentang kesialanku. kesialan yang bukan kesalahan siapapun, bukan kesalahanmu, tapi kesalahanku. Dan dari kesalahan itulah berubah menjadi kesialan.

Kesalahan itu berawal dari ujian tengah semester yang ku hadapi. Walaupun aku sudah bersiap untuk menghadapi medan perang, tetap saja semuanya terasa sia-sia. Kesiapanku dengan menggunakan kemeja coklat, jeans, sepatu, dan berbagai jenis alat perang yang sudah ku persiapkan sebelum berangkat ke kampus. Jalanlah aku menuju kampus. Ditengah perjalanan menuju kampus, aku merasakan ingin buang air kecil, dengan langkah yang dipercepat secepat rusa, dan menggunakan mobil termewah, sampailah aku di kampus dan langsung menuju toilet terdekat. Legaaa….rasanya. kesialanku pertama dimulai dari toilet kampus, ketika aku sedang memakai celana, dan tanpa ku sadari hapeku ada di saku celana, jatuhlah ceritanya si hapeku ini, hape nokiaku “hape satu-satunya yang sekarang ku miliki, dan bisa ku gunakan sebagai alat komunikasi, karena gadget canggihku sedang mengalami koma sekarat dan tidak bisa digunakan.”. Dan untuk pertama kalinya aku baru merasakan hape jatuh ke lubang buaya itu rasanya…..rasanya aku hanya bisa menghembuskan nafas dan meringis, padahal tidak ada luka di tubuhku, hanya hati dan pikiran saja, memiliki beban baru. Ketika ku lihat kondisi hapeku, hanya bertuliskan “Insert SIM Card”, dan ku matikanlah hapeku, karena menurut teori yang ku baca, bila hape jatuh ke air matikan, dan menurut teori temanku, bila hape jatuh ke air rendam diberas, karena air akan meresap ke beras menurut teori yang dia pahami. Dan ku matikan hapeku sebagai step pertama, ku copot batreinya, ku lepas SIM Cardnya, dan ku lap dengan tissue. Sungguh menyedihkan sekali nasibmu pe..pe..

Pukul 12.30 mulailah aku dengan ujian tengah semester, kesialanku kedua. Ujian mata kuliah KANJI. Sungguh sial nasibmu suci. Ketika melihat soal yang aku ucapkan hanya “ya Allah”, sisanya aku berusaha berpikir keras dengan kecerdasan dan kejeniusan yang ku punya untuk bisa menjawab semua soal dengan sebisanya, dan biarkan sisasnya menjadi urusan kertas ujian, dosen dan Tuhan Yang Maha Tahu. Selesai ujian, aku hanya bisa tersenyum miris dan meringis walaupun tubuhku tak memiliki luka. Dan pergilah aku ke genkan untuk menemui temanku, dan mencoba memeluknya untuk meringankan beban kesialanku.

Kesialan ketiga adalah ketika aku berusaha untuk menyalakan hape, hanya ingin mengetahui nomor adikku, dan ketika ku pencat tombol merah, baru ku ketahui hapeku tidak bisa menyala, tidak bisa mengetahui nomor adikku, dan temanku hanya berkata “ya jangan dinyalain, matiin, simpan di beras, ya satu hari km diemin, insyallah bisa nyala kembali.” Dan aku hanya bisa meringis dan terdiam, setengah jam aku terdiam dan akhirnya aku memutuskan pulang.

Selama perjalanan, aku hanya bisa termangu, memikirkan nasib tidak, tidak tahu aku memikirkan apa, mungkin terlalu banyak yang ku pikirkan. Di tengah perjalanan dengan uang sisa Rp 44.000 karena atm tidak bisa mengelurkan uang sebanyak itu, akhirnya aku memutuskan untuk jajan menggunakan atm di minimarket yang searah dengan kosanku. Ku belanja dengan sisa uang yang ku punya dengan menghitung menggunakan insting, dan hasil yang ku dapat, aku jajan dengan total belanja Rp. 43.700, sungguh instingku luar biasa. Dan setelah berbelanja, berjalan kakilah aku menuju tempatku tinggal “kosan” untuk menikmati kehidupan yang mulai penat dan belum terarah.

Di akhir kesialan ini, syukurnya aku belum menemuka kesialan ke empat, karena sesampainya aku di kosan, kondisiku baik-baik saja, menikmati layar datar dengan biscuit deka dan susu indomilk, untuk menceritakan nasibku hari ini kepada kalian yang berniat membaca cerita sepanjang ini dan tidak penting.

Terima kasih sudah niat membaca, jangan ikut mendongkol bersamaku, biarkan ini menjadi kesialan kalian, karena aku hanya ingin berbagi.

><

bu, bila tuhan menciptakan kita kembali, ingin menjadi seperti apa.

bu, bila tuhan membinasakan kita kembali, dunia kedua apa yang kau inginkan.

bu, bila tuhan memperkarakan hidup kita kembali, masalah apa yang kan kau pilih.

bu, bila tuhan melahirkanku kembali, ingin seperti apa anakmu kelak?

bu, bila tuhan mengadu nasibmu kembali, nasib apa yang kau pilih.

bu, bila tuhan mengizinkanmu memilih, pilihan seperti apa yang kau inginkan, dan memilih apa?

bu, bila tuhan merindukanku terlebih dahulu, sikap apa yang kau hendaki.

bu, bila tuhan mengadakan kau dan aku, manusia seperti apa kita kelak.

bu, bila tuhan menginginkan rindu untukmu, siapa yang kau rindukan.

bu, yang ku tahu tuhan adalah Maha dan kita adalah manusia. izinkan aku dan kau menjadi manusia yang bila tuhan sang Maha ciptakan adalah aku dan kau yang manusia.

rindu, ibuk.

2014

Bangun,
Sebab pagi terlalu berharga
Tuk kita lewati
Dengan tertidur

Bangun,
Sebab hari terlalu berharga
Tuk kita lalui dengan
Bersungut-sungut

Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama

Bangun,
Sebab hidup teramat berharga
Dan kita jalani
Jangan menyerah

"semangat untuk kamu, aku selalu berdoa tentang hal terbaik yang akan kamu dapatkan, kamu tidak usah menjadi sok kuat dan sok hebat di bumi manusia. cukup menjadi apa adanya manusia"